Sabtu, 20 Maret 2010

HORMON THERAPY: ESTROGEN

Prof Dr Walujo Soerjodibroto, PhD SpGK(K)

Estrogen dikenal senbagai “hormon sex wanita”. Estrogen ini yang memberikan sifat-sifat khusus yang hanya ada pada wanita (disebut “karakter sex-sekunder wanita”), seperti: Pembentukan payudara, dan berbagai manifestasi perubahan bentuk tubuh yang khas terjadi hanya pada tubuh wanita dewasa.

Walau dikenal sebagai hormon wanita, estrogen ditemui juga pada pria. Kadar estrogen yang tinggi kita dapati pada wanita pada usia reproduktif. Estrogen terutama diproduksi oleh ‘ovarium’ (indung telur), walaupun jaringan2 tertentu lain (sel lemak, kulit, kelenjar adrenal) juga memproduksinya.

Estrogen membuat wanita usia reproduktif mengalami menstruasi. Hormon ini juga melindungai wanita terhadap berbagai penyakit, seperti: Penyakit jantung dan pembuluh darah, strok, osteoporosis, gangguan fungsi immunitas tubuh dll. Proses menstruasi ini berhenti pada saat menopause, dimana saat itu kadar estrogen sudah rendah.

Pada wanita yang mengalami menopause, baik yang alami ataupun akibat operasi pengambilan ovarium, terjadi penurunan kadar estrogen yang relatif cepat. Kelenjar ‘Pituitari’, yakni kelanjar ‘endokrin’ utama pengatur seluruh kelenjar-kelenjar endokrin tubuh lainnya (endokrin = pem-produksi hormon), kemudian mengeluarkan luteinizing hormone (LH). LH merangsang ovarium untuk memproduksi lebih banyak lagi estrogen. LH inilah yang menimbulkan gangguan-gangguan khas pada wanita menopause, seperti: Wajah / badan panas, keringat berlebihan, gangguan emosional dll.

Pada wanita pre-menopause (menjelang menoppause), kadar estrogen mulai menurun, terjadi gejala-gejala yang dikenal sebagai PMS (pre-menstrual syndrome), seperti: Kramp saat menstruasi, mual, dinding vagina kering, gejala asthma, sakit sendi, gangguan emosional / marah-marah, bahkan timbul tumor, kista dll.

Untuk mengngatasi terjadinya gejala2 yang mengganggu tersebut, para dokter sering memberikan HRT (hormone replacement therapy), yakni terapi / suplementasi estrogen.

Walaupun estrogen secara alami dikenal sebagai “pelindung” kesehatan wanita, namun kadar yang berlebih (baik alami, ataupun akibat suplementasi yang tidak cermat) dikaitkan dengan terjadinya berbagai jenis kanker, yakni: Kanker payudara, uterus , ovarium, cervix, vagina dan kanker kolon.

Estrogen sering dianggap hormon kontroversial. Belakangan ini ada beberapa laporan yang menunjukkan bahwa suplementasi estrogen yang tidak cermat justru bisa menimbulkan gangguan kardiovaskular, seperti: Serangan jantung, strok, dan kekentalan darah dll.

Ada tiga jenis estrogen yang kita kenal, yakni: Estrone, estradiol, dan estriol. Estriol adalah jenis estrogen yang paling lemah. Jenis yang ini tidak menimbulkan kanker payudara, dan menjadi pilihan dokter untuk dipakai dalam mengatasi kekeringan dinding vagina pada menopause.

Sebelum terapi hormon, terlebih dahulu harus dilakukan pemeriksaan kadar hormon-hormon yang berkaitan (estrogen dll). Kini telah dikenal adanya “bio-edentical hormone therapy”, yakni terapi hormon (menurut sebagian ahli) dengan hormon yang secara biologis benar-benar edentik dengan hormon aslinya. Hormon ini diberikan dalam bentuk krim yang dioleskan pada kulit. Cara ini paling aman, karena hormon tidak langsung menuju jaringan hati (dengan segala komplikasinya), dan kadar yang masuk tubuh bisa dikontrol dengan akurat.

Namun ada sekelompok ahli lain yang menyangsikan kebolehan“bio-edentical hormone therapy” ini. FDA saja belum menyetujuinya. Menurut mereka tidak ada bukti ilmiah yang sahih yang menunjukkan bahwa terapi hormon yang konvensional lebih buruk.

Ada bebrapa ahli yang kini menganggap suplementasi estrogen pada menopause tidak diperlukan, karena keseimbangan hormonal baru akan terjadi. Walau ovarium tidak lagi berfungsi, jaringan lain (terutama sel lemak) masih meproduksi estrogen ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar